
Di Michigan Selatan, sebuah Dinas Penelitian Pertanian Ilmuwan (ARS) dan kolaboratornya telah menggunakan koleksi lebah bersejarah dan teknologi canggih untuk mengungkap tren ekologi utama pada penyerbuk. Temuan ini dapat membantu membentuk upaya konservasi baru yang bertujuan melindungi keanekaragaman lebah, yang sangat penting bagi stabilitas lingkungan dan produktivitas pertanian.
Kelsey Graham, seorang ilmuwan dengan Unit Penelitian Serangga Penyerbuk ARSikut memimpin penelitian, yang menganalisis data lebah selama hampir satu abad dari ES George Reserve bekerja sama dengan Universitas Michigan. Penelitian yang berlangsung dari tahun 1921 hingga 2018 ini mengidentifikasi tren populasi lebah yang mengkhawatirkan, termasuk penurunan kekayaan dan keanekaragaman spesies. Pada tahun 1970an, tercatat 135 spesies lebah, namun survei terkini hanya mengidentifikasi 90 spesies, dan hanya 58 spesies yang muncul pada kedua periode tersebut.
Studi ini menemukan bahwa lebah dengan sifat-sifat khusus, seperti lebah oligolektik (yang mengumpulkan serbuk sari dari beberapa tanaman saja) dan lebah kleptoparasit (yang mencuri sumber daya dari tanaman lain), mempunyai risiko lebih tinggi untuk punah. Sebaliknya, lebah polilektik (yang mengumpulkan serbuk sari dari berbagai jenis tanaman) dan lebah yang bersarang di rongga lebih tangguh.
Graham mencatat bahwa perubahan populasi lebah juga terkait dengan perubahan iklim, dengan lebah masa kini menunjukkan distribusi yang lebih ke selatan dibandingkan pendahulunya. Dia menekankan bahwa penggunaan data historis dengan jaringan saraf modern memberikan wawasan berharga tentang strategi konservasi lebah di masa depan.